Kontroversi Strategi Militer di Suriah Timur

Pernyataan terbaru mengenai strategi militer Suriah memunculkan perdebatan sengit. Banyak pihak mempertanyakan keputusan Presiden Ahmed Al-Sharaa yang memilih fokus pada wilayah Jazirah Suriah, timur Suriah, dibandingkan Golan yang dijajah Israel.

Menurut logika pendukung kelompok Syiah seperti Hezbollah, Hachd al-Shaabi, milisi al-Hajri Druze pro Israel, SDF, dan sejumlah sekutu di negara Arab, keputusan tersebut dianggap kontroversial. Mereka mempertanyakan prioritas militer yang dipilih oleh Al-Sharaa.

Dataran Tinggi Golan, meski hanya mencakup satu persen dari luas Suriah, memiliki nilai simbolis tinggi, dan selalu gagal dibebaskan oleh rejim Bashar Al Assad sampai akhirnya diakui Donald Trump sebagai milik Isrel meski ditentang PBB. Namun Al-Sharaa justru memilih membebaskan Jazirah Suriah lebih dahulu yang luasnya mencapai empat puluh persen wilayah negara.

Keputusan ini menimbulkan pertanyaan strategis. Mengapa memfokuskan energi militer pada wilayah yang lebih besar namun lebih sulit, daripada wilayah kecil yang secara historis sensitif?

Sejumlah analis militer menilai pilihan ini mencerminkan prioritas perlindungan rakyat sipil di Jazirah Suriah. Wilayah ini dihuni oleh sekitar tiga juta orang yang hidup di bawah kontrol ketat milisi yang dikendalikan kelompok teroris PKK dan diskriminasi etnis.

Sementara itu, sekitar lima puluh ribu Druze di Golan tampak relatif puas hidup di bawah kendali Israel. Kondisi ini menimbulkan kritik dari kelompok yang menekankan nilai simbolik Golan.

Pernyataan tersebut menyoroti dilema antara kepentingan simbolis dan kebutuhan humaniter. Fokus pada Jazirah Suriah dianggap menanggapi penderitaan rakyat yang lebih luas.

Para pengamat politik menekankan risiko politik dan militer. SDF yang ada di Jazirah Suriah bisa menjadi pihak pertama yang menyerang dari belakang jika front dibuka melawan Israel.

Dengan memilih Jazirah Suriah, Al-Sharaa mengambil risiko besar. Wilayah ini merupakan pusat militer yang kuat, namun juga rentan terhadap serangan udara dan darat dari Israel di Quneitra.

Kritikus menyatakan bahwa keputusan ini bisa menimbulkan ketegangan dengan sekutu regional. Logika militer pendukung Hezbollah dan Hachd al-Shaabi menekankan Golan sebagai titik fokus simbolik, meski rejim Assad tak pernah melakukannya.

Al-Sharaa, bagaimanapun, menekankan pentingnya membebaskan rakyat yang berada di bawah tekanan PKK dan diskriminasi. Ini menjadi argumen utama yang mendasari strategi Jazirah Suriah.

Sementara strategi ini mendapat kritikan, banyak warga Jazirah Suriah menyambut upaya pembebasan dengan harapan memperbaiki kondisi hidup mereka.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa Jazirah Suriah memiliki posisi strategis penting. Wilayah ini menjadi jalur logistik utama, ladang migas dan pusat populasi yang besar.

Keputusan ini juga menyoroti perbedaan prioritas antara politik simbolik dan operasi militer yang berbasis kebutuhan rakyat.

SDF yang menjadi lawan utama dalam wilayah ini dipandang sebagai ancaman potensial, namun Al-Sharaa tetap memilih untuk menghadapi mereka secara langsung.

Sementara Golan tetap menjadi wilayah yang simbolis, keputusan untuk menundanya menunjukkan pendekatan pragmatis dalam konflik militer Suriah.

Beberapa pengamat menilai, fokus pada Jazirah Suriah bisa mengubah peta politik regional. Wilayah ini menjadi lebih aman dan stabil jika dibebaskan dari kontrol militer yang menekan.

Pertarungan di Jazirah Suriah juga menjadi ujian bagi kepemimpinan militer Al-Sharaa. Strategi ini menguji kemampuan logistik, politik, dan diplomasi di medan perang.

Masyarakat internasional mencermati keputusan ini dengan seksama. Pilihan fokus pada wilayah besar dibanding wilayah simbolik memunculkan perdebatan tentang prioritas kemanusiaan versus simbol politik.

Kesimpulannya, strategi militer Al-Sharaa menyoroti dilema klasik dalam perang: membela rakyat yang menderita atau merebut wilayah simbolik. Keputusan fokus pada Jazirah Suriah menjadi titik perhatian bagi sekutu maupun pengamat internasional.

Share on Google Plus

About peace

Sejarah mencatat bahwa Nusantara bukanlah wilayah yang terisolasi. Jauh sebelum era kolonial, bahkan sebelum nama Indonesia dikenal dunia, telah ada kaum perantau dari kepulauan ini yang menjelajahi samudra, membawa kebudayaan, keterampilan, dan teknologi mereka ke berbagai penjuru dunia. Salah satu komunitas diaspora tertua yang jarang disinggung adalah kaum Sayabiga (berasal dari kata Sabak sebuah daerah di Jambi), pelaut-pelaut tangguh dari wilayah Nusantara yang jejaknya tercatat sejak zaman Mesopotamia.

0 komentar:

Posting Komentar