Pernyataan warganet Yaman Ali Al Bukhaiti memicu perbincangan luas setelah ia mengungkap apa yang disebutnya sebagai penutupan total berkas Uni Emirat Arab di Yaman. Ungkapan itu muncul tak lama setelah Aydarous Al-Zubaidi tiba dengan aman di Abu Dhabi dan dikabarkan ditempatkan di sebuah vila yang berdekatan dengan kediaman Sheikh Hani bin Brik.
Menurut Al Bukhaiti, kepindahan Al-Zubaidi ke Abu Dhabi menandai berakhirnya peran langsung UEA dalam konflik Yaman. Ia menyebut bahwa bukan hanya figur Al-Zubaidi yang “diamankan”, tetapi seluruh proyek politik dan militer Abu Dhabi di Yaman turut ditutup secara bertahap.
Ia mengklaim bahwa UEA telah mengambil keputusan strategis untuk menghentikan dukungan finansial kepada Dewan Transisi Selatan (STC), baik kepada institusi maupun para elit dan pasukan yang berafiliasi dengannya. Langkah ini disebut sebagai sinyal kuat perubahan arah kebijakan Abu Dhabi.
Tak berhenti di situ, Al Bukhaiti juga menyebut dukungan keuangan UEA kepada Tareq Saleh dan pasukan di bawah komandonya turut dihentikan. Keputusan ini dinilai akan berdampak langsung pada keseimbangan kekuatan militer di pesisir barat Yaman.
Bahkan media pun tak luput dari kebijakan pengetatan tersebut. Saluran televisi “Al-Yemen Al-Youm” yang dikaitkan dengan Ahmed Ali Abdullah Saleh disebut ikut kehilangan sokongan finansial dari UEA.
Lebih jauh, Al Bukhaiti menegaskan bahwa proyek-proyek pembangunan yang sebelumnya dijalankan atau didanai UEA di Yaman tidak akan dilanjutkan. Menurutnya, Abu Dhabi memilih mengakhiri seluruh keterlibatan, termasuk proyek sipil yang sempat dimulai.
Ia juga menyebut bahwa berbagai tunjangan rutin yang sebelumnya diberikan kepada banyak tokoh lokal yang berpihak pada UEA akan dihentikan. Pengecualian hanya diberikan kepada figur besar yang dinilai setara secara politik dan simbolik dengan Al-Zubaidi dan Hani bin Brik.
Dalam konteks ini, Al Bukhaiti memprediksi munculnya versi baru Dewan Transisi Selatan dengan “warna Saudi”. Namun ia menyarankan agar nama STC tidak lagi dipertahankan karena sudah sarat dengan citra negatif, konflik internal, dan kesalahan strategis di masa lalu.
Ia menilai nama dan simbol lama STC terlalu membebani secara politik dan emosional. Menurutnya, figur seperti Abdulkhaleq Abdullah dan Dhahi Khalfan menjadi contoh bagaimana narasi lama justru menciptakan kebuntuan dan kontroversi baru.
Karena itu, Al Bukhaiti menyarankan Abdurrahman Al-Mahrami dan sisa elite STC untuk membangun identitas baru. Identitas ini diharapkan lebih selaras dengan tujuan koalisi Arab, kepentingan Saudi, dan kerangka legitimasi pemerintahan Yaman yang sah.
Langkah tersebut dianggap penting untuk mencegah konflik klaim kepemimpinan. Tanpa identitas dan struktur baru, dikhawatirkan akan muncul perebutan siapa yang berhak berbicara atas nama STC dan siapa yang memiliki legitimasi mengendalikan arah politik di selatan.
Al Bukhaiti juga memperingatkan kemungkinan munculnya faksi-faksi lama yang ditinggalkan Abu Dhabi. Kelompok ini diperkirakan akan tetap menggunakan nama dan jabatan lama dalam STC untuk memainkan sentimen publik di provinsi selatan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menciptakan kekacauan politik. Terutama bagi Al-Mahrami dan kelompok yang memilih “menaiki kapal Riyadh” setelah apa yang disebut Al Bukhaiti sebagai tenggelamnya kapal Abu Dhabi.
Dalam situasi baru ini, Al Bukhaiti menekankan pentingnya adaptasi cepat. Ia menyebut bahwa Saudi Arabia akan berupaya mengisi kekosongan peran UEA, meskipun kemungkinan tidak dengan tingkat kedermawanan yang sama.
Meski demikian, ia yakin Riyadh tidak akan meninggalkan Tareq Saleh, Al-Mahrami, maupun struktur politik selatan. Namun dukungan Saudi diperkirakan akan lebih terukur dan sarat perhitungan.
Terkait tokoh-tokoh Yaman yang kini berada di UEA namun tidak memiliki bobot politik setara Al-Zubaidi dan Hani bin Brik, Al Bukhaiti menyarankan mereka meminta izin resmi Abu Dhabi. Langkah ini diperlukan agar mereka dapat berkoordinasi dengan Saudi melalui Abu Zur’ah Al-Mahrami.
Ia menilai fase reposisi ini sangat sensitif. Kesalahan langkah bisa membuat sejumlah tokoh kehilangan peluang untuk mendapatkan tempat dalam konfigurasi politik baru yang sedang dibentuk.
Secara khusus, Al Bukhaiti meminta Hani bin Brik dan pihak-pihak yang telah mengamankan posisi mereka untuk menghentikan provokasi terhadap Saudi. Menurutnya, retorika semacam itu bisa merugikan rekan-rekan mereka sendiri.
Ia mengingatkan bahwa banyak figur Yaman saat ini berada di Saudi, di Yaman, maupun masih di UEA. Mereka disebut-sebut akan segera menerima pemberitahuan resmi terkait penghentian fasilitas, tunjangan, bahkan tempat tinggal.
Dalam nada yang lebih humanis, Al Bukhaiti berharap otoritas UEA memberi masa transisi. Ia mengusulkan tenggat enam bulan hingga satu tahun sebelum pemutusan penuh bantuan dan fasilitas dilakukan.
Menurutnya, masa transisi tersebut penting agar individu dan keluarga yang terdampak memiliki waktu untuk menata ulang kehidupan mereka. Pemutusan mendadak dinilai hanya akan menambah penderitaan sosial di tengah krisis Yaman yang belum berakhir.
Baca selanjutnya

0 komentar:
Posting Komentar