Peta Yaman di Tahun 1909

Peta Utsmani (Ottoman) tahun 1909 itu menggambarkan kondisi Yaman dan Hadramaut pada fase akhir kekuasaan Kekaisaran Ottoman, tepat beberapa tahun sebelum runtuhnya imperium tersebut pasca Perang Dunia I. Situasi di lapangan saat itu sangat terfragmentasi dan jauh dari kontrol penuh Istanbul.

Pada 1909, wilayah Yaman Barat dan Utara secara formal masih berada di bawah Kesultanan Ottoman, terutama daerah pesisir Tihamah, Sana’a, Taiz, Hodeidah, dan jalur utama pegunungan. Namun kontrol ini lebih bersifat administratif dan militer, bukan kekuasaan efektif sepenuhnya. Ottoman terus menghadapi pemberontakan Zaydi yang dipimpin oleh para imam, khususnya dari keluarga Imam Yahya Hamiduddin, yang kelak mendirikan Negara Mutawakkiliyah Yaman setelah Ottoman mundur pada 1918.

Secara de facto, pada 1909 Yaman berada dalam keadaan perang berlarut antara pasukan Ottoman dan Imam Zaydi. Kota-kota bisa dikuasai Ottoman, tetapi pedalaman pegunungan sering berada di luar kendali mereka. Karena itu, peta Ottoman seperti yang Anda tampilkan lebih mencerminkan klaim kedaulatan imperial, bukan realitas politik yang stabil.

Sementara itu, Hadramaut pada periode yang sama tidak pernah benar-benar berada di bawah kekuasaan Ottoman. Wilayah ini berada di luar jangkauan administrasi langsung Istanbul. Hadramaut dikuasai oleh kesultanan-kesultanan lokal, terutama Kesultanan Kathiri (di Seiyun) dan Kesultanan Qu’aiti (di Mukalla). Kedua kesultanan ini memiliki otonomi penuh dan hubungan internasional sendiri.

Lebih penting lagi, pada 1909 Hadramaut berada dalam orbit Inggris, bukan Ottoman. Inggris telah menguasai Aden sejak 1839, dan melalui perjanjian protektorat, mereka memperluas pengaruhnya ke Hadramaut timur dan pesisir. Kesultanan Qu’aiti secara khusus memiliki hubungan sangat erat dengan Inggris, baik politik maupun militer.

Karena itu, dalam peta Ottoman, Hadramaut sering digambarkan tanpa kontrol administratif detail, atau hanya sebagai bagian dari “Yaman” dalam pengertian geografis-historis, bukan politik. Ini umum dalam peta imperial: wilayah yang diklaim secara simbolik tetap digambar meski tidak dikuasai secara nyata.

Pada masa itu, Yaman secara keseluruhan terbagi menjadi tiga realitas besar. Yaman Utara berada dalam konflik antara Ottoman dan Imam Zaydi. Yaman Selatan (Aden dan sekitarnya) berada di bawah kolonial Inggris. Hadramaut berada di tangan kesultanan Arab lokal dengan proteksi Inggris, relatif stabil dibanding wilayah barat.

Kondisi ini menjelaskan mengapa Hadramaut pada awal abad ke-20 berkembang sebagai wilayah dagang, migrasi, dan diaspora, terutama ke Asia Tenggara dan Afrika Timur. Ketiadaan perang besar seperti di Sana’a membuat Hadramaut lebih terbuka terhadap jaringan ekonomi global.

Singkatnya, pada 1909: – Yaman Ottoman: secara nominal dikuasai Istanbul, tetapi penuh pemberontakan dan hampir kolaps
– Hadramaut: otonom, dikuasai kesultanan lokal, berada dalam pengaruh Inggris
– Peta Ottoman: mencerminkan klaim geopolitik, bukan kontrol efektif

Share on Google Plus

About peace

Sejarah mencatat bahwa Nusantara bukanlah wilayah yang terisolasi. Jauh sebelum era kolonial, bahkan sebelum nama Indonesia dikenal dunia, telah ada kaum perantau dari kepulauan ini yang menjelajahi samudra, membawa kebudayaan, keterampilan, dan teknologi mereka ke berbagai penjuru dunia. Salah satu komunitas diaspora tertua yang jarang disinggung adalah kaum Sayabiga (berasal dari kata Sabak sebuah daerah di Jambi), pelaut-pelaut tangguh dari wilayah Nusantara yang jejaknya tercatat sejak zaman Mesopotamia.

0 komentar:

Posting Komentar